Tentara Israel yang tiba di sekitar enam desa di pagi hari, membawa empat bulldozers dan banyak kendaraan cadangan dan dukungan.
Seoang saksi lokal dari Tim pendamai Kristen memberitahu IMEMC bahwa tentara telah menargetkan empat lokasi berbeda di daerah tersebut. Diketahui bahwa setidaknya ada enam air sumur yang dibongkar oleh tentara Israel. Dua sumur diperkirakan telah hancur, karena mesin Israel sempat terlihat di lokasi sumur.
Pipa Irigasi telah disita oleh militer dan setidaknya satu menara listrik telah dirubuhkan.
Penduduk desa yang mencoba untuk menghentikan pemusnahan properti mereka mengalami cedera karena mereka dipukuli oleh tentara. Saksi lokal mengatakan bahwa lima orang terluka, di antara mereka dua perempuan yang harus bawa oleh ambulans. Tentara menghentikan ambulans, sehingga tidak dapat mencapai rumah sakit.
Israel dan aktivis perdamaian internasional yang hadir untuk mendukung masyarakat desa, Salah satunya, Jeff Halper dari ICAHD, telah ditangkap oleh militer.
Sebelumnya Sungai Yordan yang merupakan sumber air yang sangat penting di wilayah Palestina, seperti banyak hal lainnya di wilayah ini, air tersebut juga terlibat dalam sengketa antara Israel dan Palestina.
Di bawah hukum internasional, Israel berkomitmen untuk menyediakan air minum ke Palestina dan tidak menolak mereka.
Tetapi Israel sendiri adalah daerah yang sangat gersang yang dikelilingi oleh gurun. Hujan hanya turun beberapa bulan dalam setahun, dan untuk beberapa tahun terakhir daerah ini telah mengalami kekeringan.
Air yang menerima Israel datang terutama dari sistem sungai Yordan, Laut Galilea dan dua sumber bawah tanah.
Pasokan ini dipakai bersama-sama oleh Israel dan Palestina, tetapi seperti yang sudah-sudah, merupakan sumber yang sangat kontroversial.
Di Konferensi Air Dunia Ketiga di Kyoto, mantan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev menjelaskan sejarah konflik air di seluruh dunia.
Katanya ada lebih dari 21 sengketa dalam sejarah perebutan air, dan 18 dari sengketa tersebut melibatkan Israel.
"Ini sangat tidak adil," kata Yehezkel Lein, ahli air untuk B'tselem, kelompok hak asasi manusia Israel, yang membantu untuk memecahkan masalah air di wilayah Palestina.
"Kami berbicara terutama tentang gunung Aquifer dan sistem Sungai Yordania. Menekankan bahwa Israel memanfaatkan sekitar 80% dari sumber daya air tersebut, dan sementara Palestina mendapatkan sisa 20%.
"Berkaitan dengan sistem Sungai Yordania, Palestina yang tidak mempunyai akses."
Laut Galilea dapat pasokan bagian Israel, tetapi tidak dengan wilayah Palestina.
Mr Lein menambahkan bahwa konflik di wilayah itu kian dramatis.
"Terdapat hubungan yang jelas antara ketersediaan air, dan penjajahan," ujarnya.
"Israel telah mengambil keuntungan dari kontrolnya atas Tepi Barat dalam rangka untuk menyediakan lebih banyak sumber air yang tepat untuk mencegah Palestina mengembangkan sumber air bawah tanah yang baru."
Israel telah mengontrol persediaan air di Tepi Barat dan Jalur Gaza sejak pertama menempati daerah-daerah pada tahun 1967.
Oslo Peace Accord tahun 1993 menyatakan bahwa Palestina harus memiliki sumber air dan kontrol yang lebih besar, meskipun Israel tidak setuju.
Banyak Palestina yang telah berjuang, namun, karena mereka tetap tidak mendapatkan akses ke infrastruktur air.
Seorang Ibu di salah satu keluarga di Beit Furik, Fuaz Hanani, mengatakan bahwa mereka hanya mampu mencuci setiap dua minggu, karena kekurangan air.
"Saya merasa marah melihat pemukim Israel di Itmar dapat minum air bersih sementara keluarga saya minum air dari air sumur yang kadang kotor atau terkadang terkena polusi" kata Hanani.
Namun, Yakub Kaidar, menteri perairan, merasa bahwa Hanani harusnya marah terhadap orang-orangnya sendiri.
Katanya Palestina telah mencuri air dari pipa Israel dan melakukan pengeboran sumur ilegal.
"Di Gaza kami memiliki beberapa 2.000 sumur ilegal, di Tepi Barat dilaporkan ada 250 atau lebih," katanya.
Menurut Oxfam, tambahan masalahnya adalah sesedikit apapun infrastruktur yang dimiliki Palestina merupakan sasaran tembak bagi Israel.
"Kami sedang membantu keluarga miskin untuk membangun tangki baru pada atap mereka sayangnya ... itu adalah target yang baik untuk ditembaki prajurit Israel" Ton Berg dari Oxfam menyatakan.
"Kami baru saja selesai membangun tangki air yang sangat besar yang melayani setengah desa di El Boursh dan sekarang pasukan Israel telah mengumumkan bahwa mereka akan memusnahkannya, karena mereka memerlukan tanah, yang secara resmi milik Palestina, untuk membangun sebuah dinding.
"Sehingga seluruh desa ini akan kembali kekurangan air bersih."
Tampaknya segala hal yang diberikan alam untuk Palestina semakin lama semakin berkurang karena tindakan Israel yang terus menerus mengambil satu per satu hak-hak Palestina. Setelah sukses merebut tanahnya,memblokade frekuensi udaranya , dan kini, melarang Palestina untuk mendapatkan air bersih. Israel kelihatannya tahu betul bagaimana cara merebut sesuatu yang sebenarnya diciptakan Tuhan untuk dinikmati bersama, tidak peduli dari ras apa atau negara apa. Apakah Israel akan membenarkan tindakan mereka ini dengan alasan "Hak Sejarah" atau bahkan "Hak Biblikal"? (iw/imemc/tw) Dikutip oleh www.suaramedia.com














