Jumat, 12 Maret 2010

Headlines:

CIA Dalangi Drama Kerusuhan Iran?

E-mail Cetak PDF
TEHERAN (SuaraMedia News) - Buku Stephen Kinzer, “All the Shah’s Men: An American Coup and the Roots of Middle East and the Roots of Middle East Terror” menceritakan tentang kisah penggulingan pemimpin Iran yang dipilih secara demokratis, Mohammed Mosaddeq, oleh CIA dan dinas rahasia Inggris, MI6 di tahun 1953. CIA menyuap pejabat pemerintah, pebisnis dan reporter serta rakyat Iran untuk melakukan demonstrasi di jalanan.

Demonstrasi di jalanan pada tahun 1953, bersama dengan Perang Dingin mengklaim bahwa AS harus menguasai Iran sebelum Sovyet melakukannya, adalah sebagai justifikasi pemerintah AS untuk melakukan penggulingan demokrasi Iran. Yang diinginkan rakyat Iran tidak penting bagi mereka.

 

Hari ini, demonstrasi jalanan di Teheran menunjukkan tanda-tanda orkestrasi yang sama. Para demonstran, yang kebanyakan anak muda, khususnya para wanita muda yang menentang cara berpakaian, membawa tanda-tanda yang berisi tulisan dalam bahasa Inggris: “Dimana Hak Pilih Saya?” Tanda-tanda ini cenderung lebih ditujukan bagi media barat ketimbang bagi pemerintah Iran.

Bukti lain tentang adanya rekayasa ini ditunjukkan melalui teriakan para demonstran, “matilah sang diktator, matilah Ahmadinejad.”Tiap orang Iran tahu bahwa presiden Iran adalah seorang figur publik dengan kekuasaan yang terbatas. Peranan utamanya hanyalah kepanjangan tangan dari Ayatollah yang memegang kekuasaan tertinggi memerintah. Tak satupun rakyat Iran yang meyakini bahwa Ahmadinejad adalah seorang diktator. Bahkan atasan Ahmadinejad, Khamenei, bukanlah diktator karena dia ditunjuk oleh badan pemerintah yang bisa menggantinya.

Demonstrasi-demonstrasi ini, seperti yang terjadi pada tahun 1953, ditujukan untuk mendiskreditkan pemerintah Iran dan untuk memantapkan opini Barat bahwa pemerintah ini adalah rezim yang represif yang tidak mendapat dukungan dari rakyat Iran. Manipulasi opini ini akan membentuk Iran seperti Irak yang dipimpin oleh diktator yang harus digulingkan dengan memberinya sanksi atau invasi.

Di stasiun TV Amerika, banyak demonstran yang diwawancara bicara dalam bahasa Inggris yang fasih. Mereka bisa jadi adalah rakyat sekuler Iran yang sudah mengenal dunia Barat yang bersekutu dengan Shah dan melarikan diri ke Barat selama revolusi Iran tahun 1978 atau mereka adalah anak-anak muda Iran yang sudah terpengaruh oleh Barat dan tinggal di Teheran.

Banyak dari para demonstran ini mungkin tulus dalam protesnya, berharap untuk membebaskan diri dari etika moral Islam. Tetapi bila laporan adanya rencana pemerintah AS untuk mendestabilisir Iran ini benar, maka para pembuat kesulitan bayaran itu akan menemui nasibnya.

Beberapa peneliti, seperti George Friedman, yakin bahwa rencana destabilisasi Amerika akan gagal. Tetapi, banyak ayatollah yang merasa benci pada Ahmadinejad, yang menyerang ayyatolah dengan tuduhan korupsi. Banyak penduduk dalam wilayah Iran percaya bahwa ayatollah memiliki terlalu banyak kekayaan dan kekuasaan. Serangan Ahmadinejad menyangkut korupsi ini membahana dikalangan rakyat pinggiran Iran tetapi tidak dengan para ayatollah.

Kampanye Ahmadinejad melawan korupsi telah membawa Ayatollah Hossein Ali Montazeri menentangnya. Montazeri adalah rival dari Ayatollah Khamenei yang berkuasa. Montazeri memandang demo jalanan ini sebagai peluang untuk menentang Khamenei menyangkut isu peran kepemimpinan.

Maka, sekali lagi, seperti sudah banyak terjadi dalam sejarah, ambisi satu orang bisa menjadi penentu takdir negara Iran.

Khamenei memahami bahwa presiden terpilih adalah bawahannya. Bila dia harus mengorbankan pemilihan Ahmadinejad untuk menangkis Montazeri, maka dia akan melakukan penghitungan ulang dan memilih Mousavi, berpikir bahwa itu akan menjadi akhir dari kontroversi yang terjadi.

Khamenei, dalam memecahkan masalah pribadinya, akan memainkan peranan dalam menentukan apakah akan ada serangan Amerika-Israel ke negaranya.

Dipermukaan, tersingkirnya Ahmadinejad akan membuat Israel dan Amerika “kehilangan” alasan mereka untuk menyerang. Tetapi faktanya itu akan masuk dalam propaganda Amerika-Israel. Ceritanya akan menjadi Ayatollah yang berkuasa akan diungsikan dan diisolir karena dipaksa oleh rakyat Iran untuk mengakui kesalahan atas pemilu yang curang, dengan banyak pertanyaan muncul dari para Ayatollah yang tidak mengakui hasil pemilihan umum.

Mousavi dan Ayatollah Montazeri akan menempatkan negerinya yang terkepung dalam resiko tinggi. Mungkin mereka percaya bahwa penyingkiran image Ahmadinejad yang ekstrim akan membuat Iran memiliki ruang untuk bernapas.

Bila Mousavi dan Montazeri sukses dalam ambisinya, akibat yang cenderung akan terjadi adalah hilangnya kemerdekaan Iran. Para penguasa baru akan secara kontinyu mempertahankan image baru Iran yang lebih moderat dan reformis dengan memenuhi permintaan-permintaan Amerika. Bila pemerintah mengakui adanya kecurangan dalam pemilu, legitimasi Revolusi Iran akan dipertanyakan, dan akan membuat Amerika semakin jauh mencampuri urusan dalam negerinya.

Bagi para penganut paham neo-konservatif Amerika, negara-negara demokratis adalah negara-negara yang tunduk pada kehendak Amerika, tanpa mempertimbangkan bentuk pemerintahan mereka. “Demokrasi” akan dicapai oleh Amerika melalui pejabat-pejabat bonekanya.

Publik Amerika mungkin takkan pernah tahu apakah pemilu Iran ini sah atau tidak. Media-media Amerika berfungsi sebagai alat propaganda, bukan sebagai penyebar kebenaran. Kecurangan dalam pemilu memang mungkin terjadi – bahkan di Amerika – dan tanda-tanda kecurangan tersebut mulai kelihatan. Sejumlah besar suara dihitung dengan cepat, yang memunculkan pertanyaan apakah suara-suara itu benar-benar dihitung atau hasilnya semata langsung diumumkan.

Respon media Amerika pada pemilu ini begitu cepat. Dengan maksud mengutuk Ahmadinejad, media tak rela untuk menerima hasil pemilu yang membuktikan Ahmadinejad tidak bersalah dan mengumumkan bukti-bukti kecurangan, meski jajak pendapat pra-pemilu yang dilakukan Washington Post pada 15 Juni memang menyatakan bahwa Ahmadinejad diproyeksikan sebagai pemenang.

Banyak kelompok yang berkepentingan di Amerika yang menuduh pemilu itu curang. Yang penting bagi banyak orang Amerika bukanlah apakah pemilihan itu adil, tetapi apakah retorika si pemenang itu sesuai dengan kehendak mereka.

Sebagai contoh, sejumlah rakyat Amerika yang percaya bahwa baik pemilihan presiden dan kongres dilakukan dengan curang selama tahun-tahun Karl Rove dari Republik telah mencoba untuk menggunakan demonstrasi pemilu Iran sebagai alat untuk mempermalukan Amerika yang telah menerima pemilihan Bush yang curang.

Kaum feminis berada disisi Mousavi yang “reformis.”

Kaum neo-konservatif mengutuk pemilu untuk menekan “kandidat perdamaian” yang akan mematuhi kehendak-kehendak Israel untuk menghentikan pengembangan energi nuklir Iran.

Agenda ideologi dan emosional mengakibatkan orang menjauhkan diri dari informasi faktual dan analitis, lebih menyukai informasi yang sesuai dengan kepentingan materi dan disposisi emosinya.

Mengedepankan emosi terhadap fakta akan membawa dampak buruk di masa depan. Perhatian ekstra yang diberikan pada pemilu Iran menyatakan bahwa banyak kepentingan dan emosi rakyat Amerika yang dipertaruhkan. (afn/aol) Dikutip oleh www.suaramedia.com


blog comments powered by Disqus