JAKARTA (Berita SuaraMedia) - Meski menjadi sorotan masyarakat dalam penuntasan kasus bailout Bank Century, anggota DPR tidak jarang mempertontonkan aksi adu mulut dengan kata-kata kasar.
Pengamat politik Universitas Padjajaran Dedy Mulyana menilai, gaya bicara blak-blakan seperti yang ditunjukkan Ruhut Sitompul di tengah Pansus Hak Angket Bank Century, tentu tidak bisa diterima sebagian kalangan. Meski dipengaruhi karakter pribadi, namun aksi Ruhut tentunya tidak lepas dari pengaruh Partai Demokrat.
"Kalau dia tidak bisa mengontrol, dia bisa jadi beban untuk partainya, bahkan SBY. Jangan lupa, manusia itu punya cara komunikasi yang berbeda-beda. Mungkin Ruhut itu bicara dengan konteks rendah, terus terang," ungkapnya, di Jakarta, Selasa (9/2/2010).
Dedy menekankan, sikap Demokrat di hadapan media massa yang cenderung santai dalam menanggapi sikap Ruhut, bukan berarti mereka tidak khawatir. "Mungkin kelihatannya biasa saja," imbuhnya.
Menurut dia, DPR seharusnya memiliki bahasa sendiri yang menunjukkan karakteristiknya sebagai parlemen. Gaya bicara mereka harus diatur dalam norma dan etika tersendiri yang santun dan elegan.
"Termasuk pemilihan kata, bahasa tubuh, dan ekspresi wajah," tandasnya.
Aksi nyentrik Ruhut terulang dalam rapat pansus kemarin. Ruhut menyentil mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Adnan Buyung Nasution. Di tengah rapat, Ruhut berteriak sambil mengidentikkan Buyung sebagai burung Cucak Rowo.
Sebelumnya, Ruhut juga sempat adu mulut dengan Wakil Ketua Pansus Hak Angket Bank Century Gayus Lumbuun. Kala itu emosi Ruhut meledak-ledak hingga akhirnya mengeluarkan kata-kata kasar.
Sementara itu, Aksi panggung anggota Komisi III DPR Ruhut Sitompul di arena Pansus Hak Angket Bank Century terus menyedot perhatian. Bukan karena sikap kritisnya, melainkan karena gaya bicaranya yang terbilang nyentrik.
Dalam rapat pansus kemarin, Ruhut menyentil mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Adnan Buyung Nasution. Di tengah rapat, Ruhut berteriak sambil mengidentikkan Buyung sebagai burung Cucak Rowo.
"Seharusnya anggota DPR itu punya bahasa sendiri yang menunjukkan karakteristik mereka. Tapi mungkin tidak semua seperti itu. Contohnya seperti Ganjar Pranowo. Dia itu tidak emosional kalau berbicara. Ya, cukup disayangkan lah kalau (Ruhut) seperti itu," kata pakar komunikasi politik Universitas Padjajaran Dedy Mulyana, saat berbincang.
Di sisi lain, gaya bicara Ruhut yang ceplas-ceplos itu, menurut dia, bisa dilihat sebagai upaya meramaikan suasana pansus. Namun, Ruhut sebaiknya tetap menginstropeksi "kekurangannya" itu agar tidak semakin merusak citra parlemen.
"Salah satu kunci komunikasi itu kan empati, memperhitungkan perasaan orang lain," paparnya.
Sebelumnya, Ruhut juga sempat adu mulut dengan Wakil Ketua Pansus Hak Angket Bank Century Gayus Lumbuun. Kala itu emosi Ruhut meledak-ledak hingga akhirnya mengeluarkan kata-kata kasar.(ok2) www.suaramedia.com















