Facebook disebut bakal menyalip Yahoo tahun depan, dalam hal "pengunjung unik" bulanan (unique visitors).
Itu akan menempatkannya berada di antara Google dan Microsoft. Lebih dari itu, model iklan Facebook yang terus berkembang dan perannya sebagai platform distribusi berita (news-sharing), sungguh menjanjikan.
Dapatkah Facebook menjadi lebih kuat ketimbang Google? Jawabnya ya, setidaknya berdasarkan tiga alasan berikut.
Alasan pertama, Facebook akan mengalahkan Google dalam kategori Page Views, tulis Erick Schonfeld dalam TechCrunch.
Untuk beberapa hal, Facebook lebih besar dibandingkan Yahoo maupun Microsoft. "Page view"-nya tumbuh 141 persen tahun lalu menjadi 193 miliar pada Desember, hampir dua kali Yahoo yang mencapai 100 miliar (turun dua persen) dan Microsoft 109 milyar (naik 54 persen).
"Setidaknya Microsoft dan Google masih menunjukkan pertumbuhan mengesankan, terlihat dari ukuran mereka. Tetapi tidak sulit membayangkan Facebook bakal mengejar Google di kategori ini," kata Schonfeld.
Alasan kedua, Facebook menjadi pusat berita utama dunia. Ini kata Marshall Kirkpatrick dalam laman Read Write.
"Jika Anda mempublikasikan konten web dan mencari distribusi (konten secara) maksimal, Anda pasti tahu Facebook adalah lahan yang menjanjikan. Laman ini 10 kali lebih besar dari Digg atau Twitter," kata Kirkpatrick.
Dia melanjutkan argumentasinya mengapa Facebook bakal menjadi sumber berita Internet "yang mengubah dunia" dan mengapa posisinya superior terhadap Google Reader dan laman-laman berita, dengan mengajukan tiga asumsi berikut.
Satu, ratusan juta orang aktif menggunakan Facebook agar tetap terhubung dengan kawan dan keluarganya. Facebook adalah media penghubung yang dikenal dan disukai orang. Facebooklah yang mempopulerkan model newsfeed, sehingga orang terdorong melanggani berita secara lebih mudah.
Dua, melalui Facebook, pesan-pesan khusus dapat dikirim secepat mungkin kepada pembaca. Facebook bukan semata saluran "publikasi dan berlangganan" yang kaku, tetapi juga pembuka kesempatan yang luas untuk berkomunikasi. Ini membuat Facebook lebih bermanfaat untuk penggunanya, sekaligus memaksa penerbit berita mengubah cara.
Tiga, Facebook menyediakan ruang bersama untuk mendiskusikan berita-berita. Google Reader menambahkan daftar panjang dari fitur-fitur sosial di layanannya dalam beberapa tahun lalu, tetapi kini malah berbalik kacau dan membuat kualitas layanan menurun. Sebaliknya, fitur "Social + news" dalam Facebook dipandang orang sebagai masuk akal.
Alasan ketiga, Skema iklan Facebook akan sebesar skema iklan Google, demikian Ned Desmond, dalam Business Insider edisi November.
"Seperti Google, Facebook pertama kali menciptakan cara lain menjadi sukses kepada para pelanggan, dan hanya berselang dari itu Facebook melengkapinya dengan produk-produk pengasil uang," kata Desmond.
Layaknya Google, Facebook melangkah menjadi model iklan online konvensional (tak ubahnya iklan jual beli biasa) untuk menarik pelanggan utamanya. Google memahami apa yang diinginkan orang, berkat proxy yang memudahkan pencarian konten Internet, dan Ad Words (bendera bisnis iklan milik Google) diciptakan berdasarkan pemahaman ini.
Di sisi lain, Facebook juga tahu siapa pasarnya, berkat informasi-informasi yang berkenaan anggotanya saat registrasi membuat akun, sementara Facebook Ads membuat semua pemasang iklan menjadi semakin mudah mengeksploitasi informasi itu.
Sementara itu, Menurut Google, tindakan hukum terhadap tiga petinggi mereka di Italia berpotensi membungkam kebebasan berbicara dan Internet.
Sebelumnya, tiga orang petinggi Google dijerat hukuman 6 bulan penjara akibat video yang diupload pengguna internet ke YouTube. Padahal, video tersebut tidak ada hubungannya dengan para petinggi tersebut.
David Drummond, Arvind Desikan, Peter Fleischer and George Reyes (yang sudah mengundurkan diri dari Google tahun 2008 lalu) dituntut. Dan seluruhnya, kecuali Desikan, dinyatakan bersalah telah melanggar undang-undang privasi di Internet akibat sebuah video di YouTube yang berisi anak-anak menggertak seorang anak autis.
Petinggi tersebut dinyatakan bertanggung jawab akibat konten yang dikirim ke YouTube meskipun Google langsung menghapus video yang bersangkutan dua jam setelah menerima laporan dari kepolisian Italia. Meski demikian, video tersebut memang sudah ada di YouTube selama dua bulan.
Meski demikian, pengadilan Italia menyatakan bahwa kepolisian Italia tidak bersalah. Dan anak-anak yang melakukan gertakan terhadap temannya (yang identitasnya diungkapkan oleh Google) hanya mendapatkan hukuman layanan sosial, tidak penjara seperti yang diberikan pada petinggi Google.
Google tentunya akan mengajukan banding. Pasalnya, mereka bukanlah penyedia konten, dan hanyalah penyedia layanan konten yang memperkenankan pengguna internet di seluruh dunia memakai perangkat dan media yang mereka sediakan. Google juga membantah bahwa mereka merupakan penyedia konten layaknya koran ataupun stasiun televisi.
Seperti diberitakan dari TGDaily, 27 Februari 2010, jika Google harus mengawasi setiap konten, itu sama saja merupakan sensor atas internet dan merupakan pukulan telak bagi kebebasan berbicara dan berekspresi. Ini sama seperti yang terjadi di China.
Selain itu, memonitor setiap teks, gambar, dan video yang diupload ke Google merupakan hal yang mustahil. Sebagai gambaran, dalam satu menit, video dengan total durasi selama 20 jam diupload oleh pengguna internet dari seluruh dunia ke YouTube.
"Italia secara sengaja sedang berusaha mengontrol salah satu metode komunikasi," kata Juan Carlos de Martin, pendiri Nexa Center di Polytechnic University di Turin. "Ini bisa disebut sebagai sensor," ucapnya pada New York Times.
Langkah tersebut membuat Italia, negara dengan penggunaan internet dan e-commerce paling rendah di Eropa, bisa dicap sebagai negara yang menyerang prinsip kebebasan yang menjadi inti dari dibangunnya internet. (ant/vs) www.suaramedia.com














