Lima dari artikel tersebut akan dibawa ke pengadilan di Madrid pekan ini oleh tim Google sebagai bagian dari perlawanan mereka. Demikian seperti diberitakan SearchEngineWatch, Rabu (19/1/2011).
Google membantah bahwa mereka hanya menyediakan link saja dan tidak bertanggung jawab atas konten yang dipublish oleh website lain.
Perusahaan tersebut juga menyebutkan bahwa tindakan pelarangan tersebut sebagai sebuah gangguan besar pada kebebasan berekspresi.
Sementara dari pihak Spanyol mengklaim bahwa mereka hanya mencoba untuk memblokir 'materi sensitif' yang diterbitkan di situs-situs.
Jika Google sukses di pengadilan maka mereka tidak harus menghapus link tersebut.
Namun jika Google kalah mereka harus menyensor link tersebut dari pencarian.
Tapi ironisnya artikel tersebut masih tetap ada di website meski link sudah dihapus.
"Yang paling mencemaskan adalah mengapa mereka malah menunjuk ke Google, bukan ke orang yang menaruh konten sensitif tersebut di website," ujar Padraig Reidy, editor di Index on Censorship.
"Jika pihak Spanyol menghukum mesin pencari karena mengindeks konten, bagaimana bisa ada kebebasan berekspresi? Sepertinya rencana ini dijalankan oleh orang-orang yang tidak mengerti cara internet bekerja," tambah Reidy. (ar/z2k) www.suaramedia.com
- 2011, Kebutuhan Penggunaan Data Capai Miliaran Terabytes
- 'Hitler' Minta Nurdin Turun Bikin Ngakak Pengunjung YouTube
- Facebook Siapkan Aplikasi Untuk Ponsel 'Jadul'
- Vonis Terlalu Ringan, Gayus 'Diganyang Habis' di Twitter
- Wikileaks: Blogger Indonesia Jadi 'Boneka' AS!













