"Yang membahayakan tentu kita pantau. Yang arahnya teror dan subversif tentu kita pantau," ujar Sutanto di Gedung DPR RI, Selasa (22/3/2011).
Sutanto menambahkan hasil pemantauan tersebut, data kemudian di serahkan ke Menkominfo.
"Biar Menkominfo yang menentukan langkahnya. Bukan BIN yang menganbil langkah," katanya.
Langkah BIN tersebut, lanjutnya, dalam rangka memberikan peringatan dini terhadap instansi terkait.
"Kita hanya memberikan peringatan dini kepada instansi terkait, misalnya kalau masalah hukum kita serahkan ke kepolisian, masalah penyelundupan ke Bea dan Cukai. Kita ingin memperkuat Departemen terkait supaya bisa berfungsi lebih kuat," jelasnya.
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Tifatul Sembiring setuju saja dengan rencana Badan Intelijen Negara (BIN) yang akan memantau social media.
Tifatul mengaku dirinya juga memantau Twitter dan Facebook.
"Saya saja mantau. Saya mantau dari dulu ya Twitter, Facebook. Nggak usah diperintah. Masak kita tunggu perintah, kan bebas-bebas saja," ujar Tifatul usai acara Jakarta International Defence Dialog (JIDD) di JCC, Senayan, Jakarta, Rabu (24/3/2011).
Politisi PKS ini menyebutkan, siapa saja bisa memantausocial media karena social media terbuka untuk umum. "Saya saja diawasi terus, apalagi yang lain. Masak nggakboleh diawasin," kata Tifatul.
Menurut Tifatul, social media bukan untuk mengintai orang tertentu. "Nggak, mengintai bagaimana? Twitter terbuka. Dipelototin saja, nggak usah diintai-intai," tutur Tifatul. (ar/ok/dt) www.suaramedia.com













