Melalui pencitraan bumi ini, ujarnya, manusia bisa mengenali bumi untuk keperluan pemahaman potensi gempa, potensi sumber daya minyak, gas, dan mineral, hingga mengenali jenis batuan di bawah bumi untuk kepentingan penggalian bagi pembangunan subway, penggalian situs purbakala dan lain-lain.
Dosen Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB itu mengaku telah melihat potensi gempa besar dengan magnitudo 9 di sepanjang subduksi Sumatera, jauh sebelum gempa Aceh.
"Termasuk perlunya mewaspadai gempa di selatan Sumbar, karena pada 1833 telah terjadi gempa bermagnitudo 9 di kawasan itu, khususnya karena periode ulang gempa-gempa Sumatera sekitar 200 tahunan," katanya.
Sementara itu, Ketua Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) Prod Dr Soefjan Tsauri mengatakan, dengan keberhasilannya tersebut Sri Widyantoro terus memposisikan dirinya sebagai top tomographer di dunia.
Model global pertama Sri yang diterbitkan di jurnal ilmiah Nature telah memberikan solusi penting tentang skala konveksi mantel bumi yang sebelumnya terus menjadi perdebatan di kalangan para ahli kebumian dunia.
Sri telah berhasil mengembangkan teknik pencitraan tomografi yang canggih dengan menggunakan data gempa bumi untuk mengungkap secara rinci struktur zona subduksi di dunia, termasuk di Indonesia.
Tomografi gempa bumi disebutkan telah dilakukan oleh beberapa peneliti di dunia, namun demikian tingkat ketelitian dan resolusi model yang dihasilkan sangat beragam, sementara hasil permodelan Sri Widyantoro sangat teliti dan sarat inovasi.
Ia mengalahkan 122 proposal penelitian lainnya yang masuk ke ITSF, suatu yayasan yang bertujuan memberi sumbangan bagi kemajuan sains dan merupakan corporate social responsibility (CSR) dari Toray Industries, perusahaan Jepang di bidang tekstil yang memiliki beberapa cabang di Indonesia. (afp/ant) www.suaramedia.com














