Laporan dari Kamar Dagang Amerika di China keluar saat sejumlah perusahaan mengatakan bahwa Beijing melanggar semangat dari komitmen membuka pasar dengan berusaha menahan beberapa segmen perekonomiannya untuk perusahaan domestik dalam sebuah upaya membangun kompetitor global China.
Kamar Dagang menyoroti keluhan tentang upaya untuk menumbuhkan memelihara perusahaan komputer dan teknologi China lainnya – sebuah kebijakan yang disebut inovasi pribumi – dengan mengedepankan mereka dalam pembelian pemerintah dan wilayah-wilayah lain.
"Perusahaan-perusahaan Amerika kesulitan menghadapi sejumlah tantangan kebijakan mulai dari penegakan hukum yang tidak konsisten hingga kebijakan inovasi domestik yang diskriminatif dan regulasi yang membatasi akses pasar ke sektor-sektor yang semakin terbuka bagi investasi asing selama 30 tahun terakhir," ujar kelompok tersebut di dalam sebuah laporan tahunan tentang kondisi bisnis.
Laporan itu mengatakan bahwa sebuah survei atas 388 perusahaan menemukan untuk pertama kalinya bahwa regulasi yang tidak konsisten menjadi tantangan yang paling signifikan bagi perusahaan Amerika di China. Sebelumnya mereka menyebut kesulitan dalam mendapatkan manajer China sebagai masalah terbesar mereka.
"Kebijakan-kebijakan ini tampaknya mengurangi kemampuan perusahaan asing untuk mengakses pasar domestik China," ujar ketua kamar dagang, John D. Watkins, dalam sebuah pernyataan. Kamar dagang itu mewakili 1,200 perusahaan.
Laporan itu muncul di tengah serangkaian insiden yang telah membingungkan bisnis asing, termasuk perselisihan Google Inc. dengan Beijing mengenai penyensoran dan persidangan empat karyawan Rio Tinto Ltd. atas dakwaan mata-mata dagang.
Wakil menteri perdagangan China, Chen Jian, mengatakan pada hari Jumat (2/4) bahwa kebijakan pemerintah untuk menarik investasi asing tidak berubah namun aktivitas ekonomi harus didasarkan pada hukum.
"Semua perusahaan yang mematuhi hukum China akan mengalami perkembangan yang bagus," ujar Chen.
Laporan dari Kamar Dagang menekankan kekhawatiran atas "inovasi pribumi", yang banyak orang bisnis katakan merupakan hambatan terbesar saat ini bagi perusahaan asing dalam berbagai industri, mulai dari komputer hingga peralatan pabrik.
Kamar Dagang mengatakan bahwa 28% dari perusahaan yang disurvei mengatakan bahwa mereka telah kehilangan bisnis akibat "inovasi pribumi" dan 40% diperkirakan akan terkena dampaknya saat kebijakan itu diimplementasikan secara penuh.
Beijing menimbulkan kekhawatiran di antara perusahaan asing dengan pengumuman di bulan November bahwa pemerintah akan lebih memilih teknologi yang dikembangkan di China ketika membeli komputer dan barang-barang lain. Pemerintah adalah pelanggan terbesar untuk banyak jenis komputer dan teknologi lain, dan perusahaan-perusahaan itu khawatir bahwa pembatasan mungkin akan diperluas ke perusahaan milik negara juga.
Pemerintah China telah menghabiskan waktu puluhan tahun mempromosikan "inovasi pribumi" dan menggunakan kebijakan yang semakin intrusif untuk berusaha melindungi dan mendukung pengembang China.
Kamar Dagang mengatakan bahwa tujuh dari delapan tantangan utama yang disebutkan oleh perusahaan-perusahaan dalam survei terkait dengan hambatan yang dimunculkan oleh pemerintah, termasuk kekhawatiran atas perolehan ijin yang diperlukan, favoritisme terhadap perusahaan domestik, birokrasi, dan regulasi yang tidak jelas.
Survei itu menemukan bahwa 74% perusahaan tahun ini menemukan penegakan hak cipta China tidak efektif. (rin/yh) www.suaramedia.com
- Dilema Berat, Toyota Hadapi Rekor Denda Terbesar AS
- Ekonomi Buruk, Undang-Undang Warisan Terminator Diserang
- Mampu Atasi Tekanan Yuan, China Tetap Tak Merespon
- Rugikan Ribuan Rumah, Lapisan Tembok Bikinan China Dijebol AS
- Lebih Percaya Diri, Tenaga Kerja AS Inginkan Kenaikan Gaji














