Perdagangan global China siap melonjak melewati AS pada tahun 2030, menurut sebuah laporan dari PricewaterhouseCoopers (PwC).
Saat ini, perdagangan internasional China bernilai 2.21 trilyun dolar, bandingkan dengan 2.66 trilyun dolar untuk AS.
China ditetapkan sebagai perekonomian terbesar kedua di dunia awal tahun ini, mengambil alih posisi Jepang.
Menurut laporan PwC, tahun-tahun mendatang akan terlihat perdagangan global melalui perubahan fundamental saat ekonomi-ekonomi baru seperti China dan India mulai mendominasi rute angkutan udara dan laut utama.
Temuan PwC itu sejalan dengan prediksi Bank Dunia bahwa ekonomi China akan menutupi AS di tahun 2030, jika mereka bisa melanjutkan pertumbuhannya.
Kepala ekonom negara itu, Justin Lin, mengatakan bahwa jika China terus tumbuh dengan rata-rata tiap tahun 8%, maka itu akan menjadi dua kali lebih besar dari ukuran ekonomi AS dalam 20 tahun.
China bertanggung jawab untuk banyak produksi barang material dunia, membantu mempertahankan posisi negara itu sebagai kekuatan super ekonomi.
Menurut data PwC, China berada pada posisi dominan dalam hal perdagangan bilateral. Negara itu muncul di peringkat 17 dari 25 perdagangan bilateral teratas tahun 2009.
Negara tersebut menggunakan kekuatan tenaga kerjanya yang besar untuk memotong biaya produksi guna memelihara keunggulan daya saing melawan negara lain.
China adalah produsen barang-barang terbesar di dunia, dengan 19.8% semua produk manufaktur berasal dari negara itu.
Sementara itu, Perdana Menteri China Wen Jiabao mengatakan dalam rapat tahunan Kongres Rakyat Nasional, parlemen China, bahwa memelihara stabilitas harga adalah prioritas utama di tahun 2011.
Terlepas dari hal itu, sepanjang minggu pasar saham di China mengapung, sebagian karena perdana menteri menekankan stabilitas, kontinuitas, fleksibilitas, dan efektivitas daripada mensinyalir pengetatan kebijakan moneter.
Pejabat China mengingatkan rakyatnya bahwa di bawah hukum harga yang baru mereka memiliki kekuasaan untuk mengintervensi di mana pun dan kapan pun mereka rasa perlu untuk mengendalikan inflasi.
Tapi ekonom yang berbasis di Shanghai, Andy Rothman, dari Pasar Modal CLSA berargumen bahwa mereka hanya berbicara tapi tidak bertindak.
"Di tahun 2008, ketika harga makanan meningkat dua kali lipat, mereka menutup harga minyak goreng dan susu selama tiga bulan," ujarnya. (rin/bbc) www.suaramedia.com














