Jika orang memiliki ketidakpuasan mendalam mengenai situasi dan kondisi saat ini, dan berharap akan datangnya kondisi yang lebih baik, tetapi tidak terdorong untuk melakukan apa pun, maka dia adalah orang biasa. Sebab setiap insan yang dianggap normal mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Dia bukan pemimpin. Yang justru penting adalah kemampuan melihat secara tajam tentang kemungkinan menciptakan situasi dan kondisi baru pada masa depan, yang lebih baik, lewat agenda kerja tertentu. Penglihatan yang tajam itu membuat orang disebut visioner, menjadi visionaris alias pemimpin.
Dengan demikian, menjadi jelas bahwa pemimpin itu tidak boleh realistis. Data-data masa kini justru sangat tidak memuaskan dirinya. Fakta-fakta yang nyata di lapangan justru membuatnya sedih dan prihatin. Karena itu dia berbicara dan menawarkan sesuatu yang ideal, yang tidak realistis, tetapi yang sungguh pantas untuk diperjuangkan.
Tugas pemimpin sebagai visionaris adalah memformulasikan visi yang besar dan jelas agar memikat orang lain untuk mengikutinya secara sukarela, menjadi konstituen, menjadi pengikut, menjadi pendukung.
Dia harus bisa membuat visi yang diformulasikannya itu menjadi "milik bersama", milik sebanyak mungkin orang. Visi itu tidak cukup hanya menarik perhatian sekelompok orang, tetapi harus meyakinkan banyak orang.
Mengapa sebuah visi yang diformulasikan oleh pemimpin harus menjadi visi bersama? Sebab kita paham bahwa orang tidak bisa menjadi pemimpin yang lebih besar dari cakupan kepentingan yang dia formulasikan dalam visinya.
Jika visinya hanya mencakup kepentingan keluarga dan kerabat dekat, cakupannya akan sangat terbatas. Jika visinya menyangkut organisasi bisnis keluarga (privat), boleh jadi akan berbeda dengan visi organisasi bisnis milik publik.
Organisasi massa, organisasi politik, organisasi agama, dan organisasi sosial lainnya juga akan memiliki rumusan visi yang berbeda-beda pula. Pemimpin pada skala nasional, pemimpin sebuah negara-bangsa, sudah seharusnya kita harapkan memiliki visi yang mencakup kepentingan seluruh komponen dalam masyarakat bangsa tersebut.
Visi sang pemimpin juga harus menjadi "visi bersama", sebab untuk merealisasikan visi yang besar tidaklah mungkin mengandalkan dirinya atau kelompoknya sendiri. Jika masa depan yang ingin dicapai itu bisa dicapai tanpa dukungan banyak orang, maka visi itu pastilah bukan visi dalam artinya yang sesungguhnya. Di sinilah letak hubungan antara pemimpin dan konstituen, pengikut, pendukungnya: keduanya saling membutuhkan, saling merindukan, dan saling bergantung satu sama lain.
Namun, prakarsa dan tanggung jawab adalah pertama-tama urusan pemimpin. Pemimpin mengambil prakarsa dan menerima tanggung jawab untuk memformulasikan visinya dan "menjualnya" kepada orang banyak. Lalu konstituen yang melihat berbagai kepentingannya di dalam visi itu, yang yakin akan kesungguhan sang pemimpin, akan mendekat untuk menyatakan dukungannya.
Kalau ada kritik yang perlu diajukan kepada para pemimpin di negeri ini, kritik itu mungkin adalah soal tidak jelasnya visi dan agenda aksi yang menyertainya. Sebagai akibatnya, pihak yang diharapkan menjadi konstituen kemudian terombang-ambing tak karuan karena pemimpin yang satu dengan pemimpin yang lain tak jelas benar perbedaannya. Dalam konteks politik, kondisi semacam inilah yang kemudian menyuburkan apa yang disebut pakar politik sebagai politik dagang sapi, politik uang, dan yang semacam itu.
Mungkin pihak-pihak yang berhasrat besar menjadi pemimpin, baik dalam skala mikro di perusahaan (privat), terlebih lagi dalam skala makro di pemerintahan (publik), perlu kita ingatkan bahwa visi merupakan faktor pemicu (precipitating factor) yang amat vital.
Kekuatan visi
Visi menggerakkan cipta, rasa, karsa, dan karya. Visi memberi inspirasi, menggugah emosi, membangkitkan antusiasme, dan menyuntikkan motivasi. Visi menimbulkan sense of direction, menunjukkan arah yang perlu ditempuh.
Visi memberikan sense of urgency, kemampuan untuk membedakan antara yang penting dan genting (mendesak), dan yang penting tetapi belum genting. Visi memberikan fokus untuk melakukan segmentasi, targeting, dan positioning. Visi bahkan memberikan sense of identity, suatu rasa identitas kolektif yang dapat menimbulkan rasa bangga.
Secara negatif bisa dikatakan bahwa tidak tampaknya sense of direction, sense of urgency, dan sense of identity, disebabkan terutama oleh kegagalan pemimpin sebagai visionaris.
Itu pertanda pemimpin tidak bekerja, tidak melaksanakan apa yang menjadi inti dari pekerjaannya. Tanpa visi yang besar dan jelas, inspirasi akan surut, antusiasme akan sayup, dan motivasi akan redup.
Dalam konteks bisnis, beberapa contoh sederhana mungkin perlu. Visi Edwin Land ketika membuat kamera langsung jadi (Polaroid) menginspirasi pasar pada zamannya. Visi Akio Morita membuat radio-tape ukuran portable menggairahkan orang-orang yang membutuhkan produk tersebut.
Visi Bill "Microsoft" Gates untuk menghadirkan komputer di setiap meja dalam setiap rumah, pernah menjadi pemicu inspirasi yang luar biasa dalam industri terkait. Visi Michael Dell untuk menjual komputer lewat sistem antar langsung (direct). Visi Tirto Oetomo dengan Aqua menginspirasi air mineral dalam kemasan.
Jadi, untuk masa depan negeri tercinta ini, kita bisa berseru: wahai pemimpin, bekerjalah! Berikan kami sebuah visi besar yang menggugah hati, dan agenda kerja yang jelas, agar dukungan kami tak berpaling darimu.
Dari pedagang asongan jadi pengusaha gede
"Berapa tagihannya?" tanya Haji Sobar kepada seorang karyawati bagian keuangan soal tagihan utang ke satu perusahaan. "1,2, Pak" jawab perempuan itu. Setelah menghisap rokok kereteknya, Haji Sobar bilang, "ditagih dong!" Tentu saja karyawati merespon permintaan atau mungkin perintah itu dengan kalimat mengiyakan.
Percakapan itu terjadi di sebuah ruang kantor bersahaja yang di sebuah rumah di Jalan Kayumanis Timur No. 40, Jakarta Timur, Selasa siang. Bisa jadi, tak ada yang menarik dengan dialog tersebut. Juga mungkin terasa datar saja kalimatnya bila melihat sosok Haji Sobar, yang mengenakan kaos putih berkerah dan bercelana bahan jins.
Namun Pos Kota tergelitik untuk bertanya soal angka 1,2. "Maksudnya Rpl,2 juta, Pak Haji?" tanya Pos Kota. "Miliar," jawab pria itu sambil senyum. "Udah lama belum juga dibayar. "Jawaban singkat tersebut mengisyaratkan piutang sebesar itu terasa enteng untuk dirinya. Uang segede itu tak begitu menjadi beban. Jadi kontras memang dengan penampilan low profile diri dan kantornya, yang secara logika kasat mata bisa membuat orang salah faham bahwa dirinya ber-dompet pas-pasan.
Namun ternyata pria kelahiran Garut, Jawa Barat, 2 Februari 1960, ini merupakan pemilik tunggal dari Karunia Motor dan Karunia Pariwisata. Karunia Motor merupakan agen suku cadang dan chasis kendaraan Hino, Mitsubishi, Hyundai, Mercedes Benz, dan Daewoo. Dengan kantor pusat di Jalan Kayu Manis, No. Telp. 021-85900327 dan 9226076, Karunia Motor memiliki tiga kios dan satu gudang di pusat penjualan suku cadang terbesar Jakarta yakni Asem Reges. Sedangkan Karunia Pariwisata, bergerak di bidang penyediaan jasa bus pariwisata dengan kantor dan pool di Jalan Raya Tanjung Barat No. 148B, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Telp. 021-97965222 dan 08999993612. Perusahaan ini memiliki 19 bus gres.
Sosok Haji Sobar mereprentasikan premis Jennifer Basye Sander dan Peter Sander dalam buku "Niche and Grow Rich" bahwa kekayaan sangat jarang diperoleh dengan bekerja untuk orang lain. Pernyataan ini juga didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jual-beli rumah mewah, Merrill Lynch. Untuk mengidentifikasi calon pembeli potensial, Merrill Lynch memutuskan untuk mempelajari profil dari pembeli-pembeli mereka yang termasuk dalam pembeli kelas utama (mereka yang memiliki aset di atas $ 5.000 juta).
Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa 70% dari pelanggan kelas wahid tersebut adalah mereka yang memiliki usaha sendiri (bukan mewarisi kekayaan dari orang tua mereka). Mereka tidak bekerja bagi orang lain, tetapi bekerja untuk diri sendiri. Mereka bekerja keras, menabung, dan hidup hemat sampai akhirnya mereka berhasil mengum-pulkan kekayaan dalam jumlah besar.
Haji Sobar menambah daftar panjang orang yang sukses hidup dari usaha sendiri. Di dalam negeri, sudah banyak orang sukses antara lain Ciputra dan Chairul Tanjung. Sedangkan di luar negeri antara lain Pierre Omidyar dari e-bay, William Colgate dari Colgate, David Gold dari 99 Cents Only Store, Dewitt dan Lila Wallce dari Readers Digest. Mereka kaya, sukses, dan mereka tidak bekerja untuk orang lain, tetapi memiliki usaha sendiri. Mereka tidak memulai dari usaha besar, tetapi dari usaha kecil yang kemudian menjadi besar.
PERJUANGAN GETIR
Bila Haji Sobar memiliki sejumlah mobil mewah antara lain Hummer dan Toyota Harrier, juga usaha suku-cadangnya beromset sekitar Rpl,5 miliar sebulan, bukan berasal dari warisan orang-tua, juga bukan memulai usaha dari uang haram.
Pria itu justru memulainya dari berdagang rokok asongan. Usaha itu menjadi jalan pertama dirinya ketika pergi dari rumahnya di Desa Sirnagalih, Kecamatan Bayombong, Garut, tahun 1995, untuk mengadu nasib di Jakarta. Bungsu dari lima bersaudara anak pasangan Haji Main dan Hajjah Samsih ini nekad pergi ke Jakarta dengan berbekal pengetahuan sedikit dari sejumlah buruh bangunan asal Jakarta, yang saat itu sedang mengerjakan rumah tetangganya di Garut.
Dia ikut buruh itu ketika kembali ke Jakarta. "Saya ikut kerja buruh bangunan sebentar. Tinggalnya di rumah kosong yang sedang dibangun di Jalan Kartini, Jakarta Pusat. Betul-betul ngenes dan perih. Tapi saya jalani dengan tabah," tutur Haji Sobar. Sebagian upah dari bekerja sebagai buruh digunakannya untuk berdagang. Dia memulai dengan mengasong berjualan rokok di Asem Reges. Ulet dan bekerja keras menyebabkan dia bisa beralih menjadi pedagang teh botol dengan menggunakan satu boks, masih di Asem Reges.
DARI RONGSOKAN
Sambil berdagang, dia mencoba membantu sejumlah tauke toko suku cadang. Ternyata Sobar ditawari untuk bekerja sambil tetap berjualan teh botol. Insting bisnisnya sebagai cowok asli Garut (asgar) terus terasah. Dia melihat mesin atau komponen lain kendaraan yang sudah menjadi barang rongsokan sesungguhnya bisa diperbaiki sehingga bisa dipakai lagi. "Saya cari rongsokan itu kemana-mana, termasuk ke pedagang Madura. Saya bubut. Diperbaiki lagi. Ternyata ketika dijual, harganya berlipat-lipat," ungkapnya.
Haji Sobar belajar dari realitas dan pengalaman. Dia tak memiliki pengetahuan akademis apapun dalam berbisnis. Otodidak. "Baca aja bingung, apalagi musti sekolah. Saya cuma sekolah sampe kelas II SD. Makanya kalo cuma itung-itungan sih, jago bener dah," cetusnya.Pria taat ibadah ini ternyata amat dipermudah rezekinya oleh Allah Swt. Dia akhirnya dipercaya oleh tauke bahkan distributor tunggal suku cadang kendaraan menjadi agen onderdil. Untuk kendaraan niaga, terutama truk dan bus, pria dengan delapan anak itu menjadi agen penjualan suku cadang sejak tahun 2001.
MAKMUR
Kemakmuran dan martabat tinggi yang diraihnya tak lantas menyebabkan dia melupakan jati dirinya. Haji Sobar tetap menjadi sosok yang murah senyum, berpenampilan sederhana, dan amat menyayangi keluarga serta saudara. Keluarga dan saudaranya, termasuk orangtua dan mertua, ikut merasakan kemak murannya. "Alhamdulillah, saya diberi kesempatan oleh Allah Swt untuk menghajikan keluarga, orangtua dan mertua," ujarnya lagi-lagi di sambil menghisap rokok kreteknya. (fn/cbn/bv) www.suaramedia.com
- Di Balik Kisah Sukses Suami Istri Pendiri Antivirus Dunia
- Penyebab Kegagalan Vs Seratus Jurus Sukses Bisnis Besar
- Rivalitas Antar Karyawan, Stimulan Ampuh Tingkatkan Kinerja
- Lika-Liku Di Balik Kesuksesan Dirut Mandiri, Zulkifli Zaini
- Stephen King, Penulis Sukses Awali Kisahnya Dengan Kesengsaraan














