Jumat, 25 Mei 2012

Headlines:

Djoenaedi Joesoef, Bos Konimex Yang Memulai Bisnis Dari Bawah

E-mail Cetak PDF

Siapa sangka, PT Konimex yang berkantor pusat di Sukoharjo, Jawa Tengah bisa memiliki merek-merek farmasi yang dikenal luas dan cukup laris di masyarakat. Konidin, Konicare, Kalibex, Madrox, Braito, Fit-Up, Fungiderm, Inza, Inzana, NeoNapacin, Paramex, Protecal, Termorex dan Paracetamol adalah nama-nama merek obat yang berhasil dikembangkannya. Juga ada permen Nano-Nano, Frozz, Hexos, melengkapi barisan kekuatannya sebagai pengusaha farmasi.

Melihat kiprahnya itu, Konimex bisa dibilang perusahaan daerah yang meraksasa dan mampu memasarkan produk secara beragam dan inovatif. Konimex berhasil penetrasi di sejumlah segmen farmasi yang membutuhkan kemampuan teknologi dan inovasi tinggi.

Padahal, awalnya Konimex adalah perusahaan yang sangat kecil. Djoenaedi Joesoef tipikal pengusaha yang memulai dari bawah. Bisnisnya berkembang bukan karena gelontoran modal besar dari kekuatan eksternal untuk percepatan ekspansi. Melainkan, tumbuh dan berkembang alami yang bertumpu pada keuntungan bisnis yang diraih dari operasional bisnis tahun-tahun sebelumnya. Ia tak menggantungkan masa depan bisnis dan ekspansinya pada pinjaman bank.

Maka, bisa dimengerti, ketika krisis tahun 1989, Konimex tetap bertahan. Krisis tak bisa menghentikan lajunya. Produk-produknya tetap laris manis di tengah pasar. Sebab, krisis tidak menghentikan orang sakit dan minum obat. Konsumen tetap mengonsumsi obat dan produk-produk Konimex yang kebetulan relatif murah.

Produk yang pertama diluncurkan Konimex ialah Mexaquni (obat antimalaria), sulfa dan kapsul tetrasiklin, tahun 1967. Dua tahun kemudian, lahir Konidin yang hingga kini masih jadi andalan. Lima tahun kemudian, tepatnya tahun 1974 lahir Inza. Setelah itu, dari tahun ke tahun Konimex mencoba mengembangkan portofolio produknya. Bahkan, kalau mulanya hanya memproduksi obat-obat bebas (OTC), kini di pabriknya di Sanggrahan, Konimex juga mengembangkan obat-obat dengan resep dokter (ethical) serta produk nonkuratif, antara lain vitamin.

Konimex juga berekspansi ke bisnis nonfarmasi, tapi hanya consumer goods. Antara lain, di bisnis permen, makanan ringan (snack), biskuit, kemasan, jeli dan obat tradisional alami. Bisnis permen mulai dimasuki tahun 1980, sementara bisnis makanan ringan dimulai sejak 1993, melalui PT Solonat (mereknya antara lain Wafero, Snip Snap, Tini Wini Biti dan Cocomania). Setahun kemudian, tahun 1994, Konimex mendirikan pabrik biskuit dan cokelat Sobisco.

Tahun 1983, Djoenaedi juga membeli 40% saham Vitapharm (pemasar Viva), perusahaan produsen kosmetik yang menyasar segmen menengah yang sampai sekarang masih cukup memimpin. Di perusahaan itu, kini ia merupakan pemegang saham mayoritas. "Kinerja Viva juga bagus, katanya. Beberapa tahun terakhir Konimex juga masuk di bisnis obat alami seperti minyak kayu putih dan minyak telon, dengan merek Konicare. Ini termasuk produk yang cukup sukses dan juga menjadi andalan kami", lanjut Djoenaedi yang juga memiliki perusahaan kemasan skala besar yang dikelola anak keduanya, Rijanto Joesoef, di Surabaya.

Tentu, secara organisasi Grup Konimex sekarang lebih gendut. Pasalnya, di pabrik saja jumlah karyawan mencapai sekitar 1.900 orang, sementara di lini distribusi 2.000-an orang. Belum lagi di pabrik kemasan dan anak usaha lainnya. Praktis, di Grup Konimex tak kurang 5.000 karyawan bernaung. "Semua perusahaan yang saya pegang tidak ada yang rugi," Djoenaedi menceritakan dapurnya. Djoenaedi tidak sampai menyelesaikan Sekolah Menengah Atas, karena sudah keenakan cari duit. Begitu lulus dari sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) di Chinese School pada 1949, sebenarnya ia ingin melanjutkan sekolahnya. Namun, karena di Solo tidak ada SMA Chinese School, dia harus ke Semarang.

"Waktu ke Semarang, saya diberi dua pilihan. Saya harus menunggu sampai tahun ajaran baru berikutnya atau mengulangi lagi kelas tiga di SLTP Semarang. Saya memilih menunggu," katanya.

Selama menunggu itulah, pemuda kelahiran Surakarta 6 Juni 1933 itu mulai belajar berdagang obat-obatan. Dunia farmasi memang sudah dikenalnya, karena ayahnya pernah bekerja di toko obat di kawasan Glodok, Jakarta, dan kemudian berusaha sendiri di Solo. Djoenaedi mencoba magang di toko di tempat ayahnya pernah bekerja. Selama di Jakarta, dia menginap di toko obat itu dan belajar mengenal bisnis farmasi secara langsung, pada 1950.

Balik ke Solo, dia membeli banyak obat-obatan yang akhirnya hanya mendapat amarah dari sang ayah karena kebanyakan. Sampai akhirnya sang ayah menantangnya apakah dia bisa menghabiskan barang-barang itu. "Ya, saya keliling Solo untuk menghabiskannya dan ternyata bisa habis. Lalu, saya belanja lagi dan berhasil menjualnya lagi," katanya.

Lama-lama Djoenaedi berhasil menjadi pedagang grosir (wholesaler) di Solo dan pada 1959 berhasil membuka apotek. Dari membuka apotek, setahun kemudian membuka pabrik dengan nama PT Kondang Sewu, yang namanya diambil dari istrinya di kampung Sewu, Solo. Tapi akhirnya nama pabrik ini diganti nama menjadi PT Kondang Impor Ekspor (Konimex) pada 1967 untuk lebih meningkatkan citra perusahaan.

Dari tangan Djoenaedilah Konimex kini menjadi besar dan tidak saja bergerak di bidang farmasi saja, tapi juga masuk ke bisnis makanan. Hexos, Nano-Nano, dan Frozz hanyalah beberapa nama permen yang sudah dikenal luas.

Keempat anaknya semua terjun menjadi pengusaha seperti dirinya di berbagai sektor dan tampaknya hanya Edijanto Joesoef, anak tertuanya, yang terpikat untuk meneruskan usaha di bidang farmasi ini. Kini, Djoenaedi tak lagi sepenuhnya mengelola manajemen perusahaan, karena sudah diserahkan ke Edijanto. (fn/cp/if) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon