Jumat, 25 Mei 2012

Headlines:

Wow, Ratusan Juta Masuk Kantong Hanya Dengan Kain Perca

E-mail Cetak PDF

Era kebangkitan pamor kain batik di Indonesia beberapa tahun belakangan membawa keberkahan bagi para pengusaha kerajinan tangan di pelbagai daerah. Tengok saja, banyak industri rumahan hingga perusahaan besar dengan bebas bisa mengkreasikan produknya dengan menggunakan bahan baku kain batik.

Bisnis pakaian batik beberapa tahun belakangan mulai meramaikan sejumlah pusat perbelanjaan di negeri ini. Harga yang makin kompetitif dan corak serta model nan beragam, meningkatkan peminat para konsumen batik. Tak ayal banyak orang yang beralih menjual produk-produk batik.

Sama halnya dengan Leni Mangiri, perempuan asal Semarang ini juga memutuskan untuk terjun ke dalam usaha batik sejak sekira delapan tahun yang lalu. Tapi bedanya, bahan baku produk batiknya itu bukanlah berasal dari kain batik jadi nan utuh, melainkan dari limbah batik atau biasa dikenal perca batik.

Selain karena harganya pun lebih murah. Ketertarikannya untuk mengolah dan mengreasikan limbah-limbah batik itu lah yang mendorongnya memutuskan untuk bergelut di bisnis kain perca batik ini.

"Awalnya, karena ketertarikan saya terhadap limbah batik yang terbuang. Kok sayang saja rasanya padahal ini bisa dikreasikan lagi dan menghasilkan uang juga. Lalu saya buat lah perca itu menjadi tas, selimut, sarung bantal, bedcover, dan lain-lain," tutur perempuan lulusan sarjana hukum Universitas Diponegoro ini, belum lama ini.

Tak hanya itu, risiko penjualan yang lebih rendah pun semakin meningkatkan optimismenya untuk menggeluti usaha perca ini. Meski target pasar yang menjadi sasarannya adalah masyarakat golong ekonomi menengah rendah, dia pun mengaku tidak masalah. Karena justru segmen pasar itu lah menurutnya lebih sesuai dengan jenis produk jualannya dan lebih banyak peminatnya.

"Kalau kain perca itu kan harganya lebih murah, tidak semahal kain batik jadi, sehingga risiko penjualannya pun lebih sedikit. Apalagi produk perca ini kan target pasar dan peminatnya memang banyak datang dari masyarakat kelas menengah rendah, jadi tidak masalah," ungkapnya.

Mula usahanya, ceritanya, dia hanya bermodalkan satu mesin jahit dan empat karyawan, serta uang Rp500 ribu. Dari modal tersebut, menurutnya dia bisa memproduksi 50-100 buah produk dengan perolehan laba dua kali lipatnya. Namun untuk mencetak laba tersebut, dia mengakui itu tidak lah mudah. Butuh proses yang cukup lama sekira setengah tahun lamanya untuk mencapai laba tersebut.

"Labanya memang dua kali lipat modalnya, tapi prosesnya lama, sekira setengah tahun. Ini karena masih belum ada yang mengenal produk kami," ujarnya.

Namun kendala di awal tersebut tidak membuatnya patah semangat. Dia pun terus mempromosikannya melalui rekan-rekannya, dari mulut ke mulut.

Bahkan dia pun punya inisiatif untuk mendaftarkan produknya ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan Semarang. Dari sejumlah informasi Dinas Perindag inilah menurutnya usahanya itu kian berkembang.

"Awalnya saya ikut diajak berpartisipasi pada bazar yang diselenggarakan Dinas Perindag. Biaya stand pun pada awalnya saya masih dibiayai Dinas Perindag. Dari situ lah produk saya mulai dikenal. Lalu, saya makin banyak dapat informasi tentang bazar-bazar, lalu saya pun ikut, tapi sudah dengan biaya sendiri," bebernya.

Kerja kerasnya itu kini bisa dikatakan telah membuahkan hasil. Sekarang, usaha kelolaannya itu telah memiliki 20 orang karyawan dengan omzet per tahun mencapai Rp120 juta. Produk yang dihasilkannya pun saat ini sudah terdiri dari 50 jenis (item) dengan jumlah berbeda-beda, bisa mencapai ratusan buah, tiap item-nya.

"Omzet dalam setahun bisa mencapai Rp120 juta. Penghasilan terbesar biasanya diperoleh pada masa sebelum lebaran, karena produksi kami genjot dan lebihkan dua kali lipat, sehingga omzetnya bisa dua kali lipat dibanding bulan biasa. Tapi setelah lebaran anjlok lagi karena tidak ada pesanan. Dua bulan setelah lebaran baru normal lagi," paparnya.

Meski sudah meraup omzet ratusan juta, dia mengaku kini usahanya itu justru makin memiliki tantangan besar. Pasalnya, menurutnya kini makin banyak pengusaha kain perca, sehingga harga jual pun makin kompetitif dan keuntungan pun makin berkurang.

"Makin sekarang makin banyak pengusaha kain perca, apalagi harga kain perca di pabrik-pabrik juga makin mahal, sehingga kami pun harus berebutan memperolehnya. Tapi saya juga tidak bisa sembarang menaikkan harga produk karena pembeli suka protes, paling keuntungan yang coba ditekan, dari yang biasanya mencapai laba 40-45 persen, sekarang hanya 20-35 persen," curhatnya.

Untuk itu, lanjutnya, dia pun harus terus berupaya mengembangkan inovasi baru tiap produknya dan kualitas produk tetap dijaga, bahkan ditingkatkan.

"Ya, tetap optimistis saja lah, tetap lakukan pekerjaan sebaik mungkin. Tapi harus tetap memberi tahu konsumen bahwa kualitas produk kita berbeda, meskipun harga lebih tinggi dibanding produk lain," pungkasnya.

Tak hanya itu, keunikan lainnya dari produknya adalah tas buatannya ini bisa dilipat hingga kecil hingga berbentuk seperti dompet. Dan ketika retsletingnya dibuka, bentuknya pun bisa diubah menjadi tas dengan bentuk yang besar. Itulah sebabnya ia sebut produk uniknya ini dengan nama tas lipat. "Saya membuat tas lipat ini karena penggunaannya praktis tergantung keinginan, mau ukuran kecil atau besar bisa," katanya.

Usaha ini sebenarnya sudah ia kerjakan sejak dua tahun lalu dengan bermodal uang sebesar Rp 5juta hasil pinjaman dari sang ibu. Dari uang sebesar itu ia membeli mesin jahit, kelengkapan menjahit hingga kain perca dari konveksi dan pabrik kain di Semarang.

Ia memiliki ide menggunakan kain perca sebab waktu itu kakaknya yang seorang penjahit memiliki banyak bahan bekas jahitan berbentuk potongan-potongan kain perca yang sudah tak terpakai.

Dari sanalah ia berkreasi dengan menggunakan bahan perca batik untuk produk tas lipatnya. Dulu masih mempekerjakan dua pegawai karena pesanan masih belum banyak. "Tapi sekarang pesanan semakin banyak sehingga saya sudah dibantu oleh sepuluh pekerja," katanya.

Bahan baku yang digunakan untuk membuat tas lipat batik perca ini seperti benang, kain hitam, retsleting, karton untuk membuat pola dan bahan sintetik untuk membentuk badan tas. Ia membutuhkan kira-kira Rp 5juta untuk pengadaan bahan baku tersebut. "Itu belum pembelian kain perca batiknya, sekali beli bisa sampai Rp 15juta," ujarnya.

Kuantitas pembelian kain percanya bisa sampai satu truk penuh dalam sekali pembelian untuk keperluan bahan perca selama 1,5 bulan. Dalam sehari ia bisa memproduksi tas lipat batik hingga 100 buah dengan harga satuannya sebesar Rp 35.000. "Margin keuntungan yang saya dapat sebesar 35%," katanya.

Pemasaran tas lipat batiknya ini tidak hanya di Semarang saja, hingga kini tas lipat batiknya sudah meramaikan pasar Jakarta, Lombok, Jogjakarta, Sulawesi, Kalimantan hingga negara-negara di Eropa. "Merek tas lipat ini sudah saya patenkan sejak satu bulan lalu dengan nama Dahlia Art," ujarnya.

Pembeli dari luar negeri kerap ia dapatkan ketika sedang mengikuti pameran-pameran kerajinan tangan di Jakarta. Selain itu ia pun menjual produknya ini melalui website sehingga pasarnya bisa semakin luas.

Dalam sebulan rata-rata ia mendapatkan pemesanan tas lipat hingga 300 buah dengan omzet sekitar Rp 10,5 juta. "Tapi kalau sedang pameran transaksi pembelian bisa sampai Rp 30juta," katanya.

Leni tidak hanya memproduksi tas lipat batik saja, ia juga membuat selimut dengan bahan kain perca batik pula. Kontribusi terhadap pendapatan sebulannya pun cukup besar. "Kalau dihitung-hitung total omzet perbulan bisa mencapai Rp 20 jutaan," katanya. (fn/cp/knt) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon