"Bayi itu baru saja meninggal dunia setelah sempat mendapat perawatan intensif di ruang bayi," ungkap Humas RSUD AW. Sjahranie Samarinda, dr. Nurliana Adriati Noor, Jumat.
Bayi yang tidak memiliki tempurung kepala (Anenchepaly) atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah anenchepalus atau anenchepal itu menyebabkan otaknya berada di luar kepala.
"Peluang untuk hidup bayi dengan kondisi anenchepaly atau sering juga disebut sebagai penderita numpang otak sangat kecil sebab biasanya hanya bisa bertahan hidup hingga beberapa jam saja," katanya.
"Walaupun akhirnya meninggal, namun bayi yang lahir melalui persalinan bidan dengan berat 2,7 kilogram itu mampu bertahan hidup hingga lebih dua hari," ujar Nurliana.
Anenchepalus lanjut dia bisa di sebabkan oleh kekurangan asam folat maupun virus serta kemungkinan faktor genetis dan lingkungan.
Ada berbagai macam virus yang menjadi penyebabnya seperti virus toxoplasmosis, rubella, cytomegalovirus, herpes, atau yang sering di sebut TORCH.
"Namun, penyebab penyakit itu belum bisa dipastikan sebab bisa juga oleh faktor genetis dari orang tuanya dan lingkungan termasuk asupan gizi yang kurang saat masih dalam kandungan," kata Nurliana.
Sebelumnya, bayi pasangan Suherman (45) dan Susiah (40), warga RT 03/RW 07, Dusun Kasihan, Desa Mudal, Temanggung, Jawa Tengah, yang lahir tanpa batok kepala (anchepalus), kembali dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Djojonegoro Temanggung.
Sebelumnya, kata Susiah di Temanggung, bayi dengan berat 37 ons ini hanya dirawat di RS itu selama tiga hari.
Kondisi bayi memprihatinkan, kepalanya terpaksa harus diperban karena bagian dalam kepala (otak) tidak berpenutup.
Untuk biaya persalinan di RSUD Djojonegoro, Suherman mengeluarkan uang sebesar Rp600 ribu atau separuh dari total biaya.
"Itu pun setelah mendapat bantuan keringanan dari desa melalui program Jaminan Kesehatan Temanggung (JKT). Bantuan ini hanya separuh karena kami tidak mempunyai Jamkesmas," ujarnya.
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh itu terpaksa membawa pulang bayinya dan dirawat sendiri di rumah, kembali dibawa ke RSUD Djojonegoro karena tubuh bayi menguning.
Sekretaris Desa Mudal Farid Zauhani mengatakan, pemerintah desa akan mengusahakan bantuan perawatan bayi karena orangtuanya tergolong kurang mampu.
"Kami akan koordinasi dengan Dinas Kesehatan maupun Dinas Sosial untuk membantu perawatan bayi itu," kata Farid.
Sementara Direktur RSUD Djojonegoro, dr. Artiyono mengatakan, "Setelah dirawat tiga hari di RS, orang tua bayi meminta pulang paksa dengan alasan biaya."
Menurutnya, penyakit kelainan itu terjadi karena beberapa faktor, antara lain faktor gizi ibu bayi waktu mengandung dan kemungkinan ada virus dari hewan sehingga pertumbuhan bayi mengalami gangguan.
"Bayi tersebut tidak ada batok kepala karena pertumbuhan pembentukan otak tidak sempurna. Otaknya juga tidak berfungsi normal. Tingkat harapan hidup 10 persen," katanya.
Untuk sementara ini tim medis membantu perawatan bayi dengan memberi infus agar asupan vitamin tercukupi dan menempat bayi di ruang isolasi supaya tehindar dari inveksi.
"Rencananya kami rujuk ke RS dr. Kariadi Semarang. Untuk perawatan selama di RSUD sampai dibawa ke RS Kariadi gratis," tehas Artiyono. (fn/ant/tk) www.suaramedia.com













